May 16, 2008

Perspektif Blogger Pemula atas Kelahiran UU-ITE

Filed under: PelajaranMengarang — daengnuntung @ 9:00 am

aneh.JPGBlogger amatiran ini, coba memulai tulisan dari landasan pikir sederhana: Adakah yang mesti apresiasi dari seseorang penyedia data dan informasi di internet jika tidak mengenal identitasnya? Mestikah dibela seseorang yang menggunakan internet dan berbicara tentang kebohongan dan penistaan tanpa dasar pijak yang jelas? Seperti anda, saya juga akan berkata tidak.

Hal tersebut secara normatif tentu saja sangat tidak pantas. Namun tahukah kita bahwa dalam trend penggunaan media internet yang semakin multitafsir dan berkembang pesat dan identik dengan penjelasan diatas, memang kerap kali mewarnai hari-hari kita? Belum lagi bahwa kita terkesan tidak siap dengan segala konsekuensi perkembangan teknologi informasi tersebut.

Banyak hal dan kejadian sudah menjadi fokus sosial di media internet dan telah jadi ajang kriminalisasi atau polarisasi ide. Atau katakanlah bagaimana doktrin-doktrin perlawanan diternakkan oleh pihak-pihak tertentu dengan samar tanpa kontrol yang jelas. Persis dengan cara dan pola gerakan penganut masyarakat madani (social society) untuk melakukan agitasi dan menciptakan ketimpangan sosial demi melawan hegemoni negara. Banyak bukti bahwa beberapa pejuang pembebasan telah menggunakan media internet untuk mendukung gerakan-gerakan dan strategi perlawanannya. Melawan hegemoni negara atau bahkan separatisme. Jika mereka bekerja atas nama issu HAM, tentu mereka buruk dimata negara tetapi mulia di mata penggiat issu HAM tersebut.

Dalam tulisan ini tidak dibahas secara spesifik issu diatas, namun hanya ingin mengingatkan betapa kompleksnya defenisi fungsi dan standar nilai di dunia maya itu. Penggambaran diatas mungkin tidak sesederhana seperti yang saya bayangkan. Maksudnya adalah dalam menyampaikan misi tertentu melalui internet dapat saja beragam argumentasi yang muncul atas sebuah postingan. Semua mengklaim read more

May 15, 2008

34 Jam Lhok Seumawe-Medan-Banda Aceh

Filed under: jalan jalan — daengnuntung @ 2:49 am

Dear Frenz,
Hari Senin 12-05-2008. Satu membuat rencana tak terduga, saya memutuskan ke Medan untuk perbaiki digitalcamera Sony dan ngurus tiket di Riau Airlines.

Setelah menyelesaikan meeting desa dengan petambak di Aceh Utara, sore, saya sudah mencegat bus di depan hotel Samudera Lhokseumawe. Dibantu seorang anak muda setempat saya pun, naik minibus. Di Aceh mereka menyebutnya mobil L300. Katanya, ke Medan. Empat jam perjalanan, minibus tiba di kota Langsa, Aceh Timur dan seperti kuduga, karena saya hanya sendiri, sang sopir meminta saya mencari mobil lain.

Untung saja, selama hampir 20 menit menunggu, bus besar dari arah Banda Aceh pun masuk ke terminal. Setelah membayar, Rp. 25ribu kepada sang sopir (yang belakangan saya tahu kalau Rp.5ribu jatuh ditangan agen terminal. Ongkos bus dari Langsa ke Medan malam itu, Rp. 25ribu.

Perjalanan yang menyenangkan dengan bus tua namun ACnya masih lumayan bagus. Penumpang malam itu cukup banyak, rata-rata penumpang dari kota Langsa dan Aceh Tamiang.

Perjalanan dengan L300 dan bus Anugerah menuju menuju Medan cukup berkesan. Gelap di sepanjang jalan di pantai timur Aceh serasa tiada menjemukan karena ada dua cerita seru nan mendebarkan:

Ketika masih naik L300 saya read more

Sajak: Berhentilah

Filed under: sajak — daengnuntung @ 1:57 am

berhentilah

:: engkau

angin berbaring
ombak menepi
laut meraung
bahtera berhenti

suaramu melemah
kesatria tanpa daya
di lurus garis kaki cakrawala
batu karang mengintai

Bireun, 08052008

April 28, 2008

Sajak: Kapal Kayu

Filed under: sajak — daengnuntung @ 2:09 am

dsc07194.JPGkapal kayu
:: setelah membaca “kapal gersang”

kapal kayu layari separuh dunia
dari geladak seluas kuburanmu, kelak.
kapal kayu buatan negeri
hingga nakhoda tak gagap astronomi

dan dalam hening senja musim timur
engkau telah dengar tangis bayi yang dikalahkan raungan mesin yanmar
hingga karena tak terdengar
bibirnya gemetar membiru
mengalahkan birunya samudera

di musim pancaroba
engkau nikmati senja
dan, sesekali memandang kaki langit
“bah, alangkah lambat kapal ini”

engkau jelajah samudera
dan umpatanmu tak jeda jua
terus berputar, berpusar, berbuih mengalahkan besi baja yang mendorongnya sekuat tenaga kuda

engkau sebut,
kenapa pula kita masih disini

Banda Aceh, 260408

April 25, 2008

Maka Mengalirlah ke Muara

Filed under: Photographs — daengnuntung @ 9:09 am

p1010037.JPG

Berdarah-darah di Meulaboh, 2007

dsc06027.JPG

Menuju Sabang, Banda Aceh 2008

dsc07201.JPG

Selamat tinggal, Simeulue 2008

new-picture-16.jpg

Menengok saudara, Nias Selatan 2007

dsc02103.JPG

Melewati Geureutu, Aceh Jaya 2007

dsc07148.JPG

Membuang pancing, Simeulue 2008

copy-of-banda-aceh-pada-suatu-sore.JPG

Menuju gelap, Banda Aceh 2008

rumah-shelter-di-aceh-besar-lohoknga.JPG

Masih menunggu, Aceh Besar 2007

April 18, 2008

Listen to Your Mom, Donnie !

Filed under: Great Moment — daengnuntung @ 5:34 pm

dsc01102.JPG

and…..Sofia says: Listen to our Mom, Donnie!

April 17, 2008

sajak: pertemuan dini (part two)

Filed under: sajak — daengnuntung @ 2:44 am

simeulue31maret08.JPGpertemuan dini (part two)
(setelah membaca h-pram)

engkau mengajakku bersepeda
berat tret tret tretet bunyi rantai dan pedalnya
menjelajah dan belah hamparan hijau di punggung “blang bintang”

tempat asing dimana aku sadar
telah kehilangan sentuhan rasa,
warnawarna menyatu: tiada biru seperti asalku

bersama orangorangan yang lengannya terpanggang matahari, disapu hujan
ditarik paksa
sesekali berdansa
mendendang
menghalau burungburung gereja
yang hendak berpesta

semua tak kekal, katamu

Mata Ie, 160408

sajak: pertemuan dini (part one)

Filed under: sajak — daengnuntung @ 2:30 am

dsc07024.JPGsajak: pertemuan dini

(setelah membaca h-pram)

matamu yang bening
mencari sepasang kupukupu
di rindang bulu lentik kelopaknya: sukmamu

bagai bola rolet berputar
kuhanya termangu
menunggu nasib
setelah kau cipta seribu debaran:
pelukmu

hingga angin petang enggan mengarah lautan
kita senyap
seperti hamparan samudera kenangan
yang disiasiakan matahari

Mata Ie, 150408

April 16, 2008

Derita Sang Penyelam Teripang

Filed under: PelajaranMengarang — daengnuntung @ 3:33 am

dsc07062.JPGdsc07056.JPGPulau Simeulue sedang terik. Laut tampak tenang. Di ujung timur, tepatnya di desa Labuan Bajau, Sofyan Samde mantan kepala desa berkisah di tepi pantai timur pulau. Desa ini pertama kali dibuka oleh pendatang dari Sulawesi. Dia tidak menyebut Bugis atau Makassar tapi dari tanah Sulawesi. (Foto 1: pak Halir dan Tongkatnya) (Foto 2: Anak-anak sedang bermain dekat sampan dan kompresor)

Desa itu dinamai Labuan Bajau, dianggap pertama dihuni oleh pendatang dari Sulawesi. Dibuka oleh seorang pemimpin pelayaran dan setelah tinggal dan beranak pinak, sang pemimpin kemudian meninggalkan desa tanpa alas an yang jelas. Hingga hanya bajunya yang tertinggal. Dinamailah kampung itu, Labuan Bajau hingga sekarang. Awalnya bernama Labuhan Baju, tapi berangsur menjadi Labuan Bajau, seperti nama kampung di belahan Nusa Tenggara, tepatnya pulau Komodo.

Cerita diatas terkesan sederhana dan dangkal. Namun, tidak adanya catatan-catanan atau dokumen sejarah maka cerita dari mulut ke mulut ini kemudian diakui sebagai asal-usul nama desa itu. Sofyan Samde, bangga sebagai keturunan dari Sulawesi. Dan menyebut bahwa raut wajahnya adalah wajah Sulawesi, bukan wajah Aceh bukan pula Nias. Dia merupakan generasi ke 5 atau jika dirunut kampung ini mulai berdenyut sekitar 3 abad lampau.  Obrolan kami terputus ketika melintas dua warga setempat dengan tongkat di tangan. Jalannya terhuyung dan nyaris hanya menarik kakinya diatas pasir ditemani sebilah tongkat.

 “Perkenalkan, ini pak Halir dan pak Anharuddin” Mereka lahir dan besar disini dan sudah lumpuh sejak 20 tahun lalu. Mereka lumpuh setelah menyelam di malam hari yang dingin. Kata pak Sofyan. Di desa ini, read more

Mustakim, dari Tadokkong ke Den Helder

Filed under: PelajaranMengarang — daengnuntung @ 3:19 am

15april2008.jpgPada tanggal 13 April 2008, seraya menunggu penerbangan dari Makassar ke Banda Aceh saya disapa seseorang yang nampaknya hendak melakukan perjalanan sangat jauh dengan paspor di kantung bajunya.  Mustakim, atau lengkapnya Mustakim Tepu, anak dari pelosok Pinrang yang kini sedang bekerja di Belanda sebagai karyawan perusahaan di negeri kincir angina tersebut.

Dia mengaku tidak tamat SMA namun kini dia adalah karyawan dengan gaji ratusan euro pada salah satu perusahaan bernama Vroon. Perusahaan tempatnya bekerja sekarang adalah perusahan multibisnis namun lebih banyak pada unit bisnis shipping atau perkapalan dan pertambangan lepas pantai. Spesialisasinya adalah pada pertolongan pertama dan keselamatan kerja sebagai anggota team rescue.

Sekarang ini dia sedang disibukkan oleh read more